Senin, 26 November 2018

Pertahankan Kualitas, Telur Asin Laris Manis

"Telur berukuran besar, kulit telurnya bersih dari kotoran, putih telurnya bersih, kuning telurnya berwarna kemerahan dengan sedikit berlapis minyak dan rasanya masir."

Komariyah dan Khoirul Anwar
Usaha telur asin memang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia dan sudah banyak orang yang menggeluti usaha ini. Namun, hal ini tidak menyurutkan tekad dan niat pasangan suami istri Khoirul Anwar (32) dan Komariyah (31) untuk mengadu nasib berwirausaha di bidang pengasinan telur.

Berawal dari keinginan yang kuat untuk berwirausaha, Irul, panggilan akrab Khoirul Anwar, memberanikan diri berwirausaha telur asin dengan modal yang relatif kecil yaitu Rp. 5 jt. Modal awal ini digunakan untuk membeli perlengkapan pengasinan telur seperti tong tempat pengasinan, batu bata, garam dan telur. Pasutri ini memilih usaha telur asin karena banyak diminati konsumen dan merupakan kebutuhan sehari-hari. “Saya memilih telur asin ini lantaran banyak pembelinya dan telur asin ini kan juga kebutuhan sehari-hari. Dan lagi, di desa ini belum ada yang berwirausaha di bidang pengasinan telur. Kalau di desa atau daerah lain sih banyak.” Ujar Irul yang tinggal di desa Randuati Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan Jawa Timur ini.

Di awal usahanya, Irul dan istrinya telah beberapa kali mengalami kerugian dikarenakan telur asinnya tidak jadi dan terkadang juga busuk. Namun ia menyadari bahwa kerugiannya itu disebabkan kurang berpengalaman. Tekadnya tidak lantas surut dan putus asa, tapi ia terus bangkit dan memulai kembali usahanya walaupun telah rugi jutaan rupiah.

Foto : Penulis
Dalam memasarkan telur asin produksinya, ia memasarkan telur asinnya ke toko-toko, warung-warung, dan pasar. Namun setelah berjalan sekitar dua tahun, sekarang usaha telur asinnya mulai mendapatkan kepercayaan dari masyarakat dan mulai memperlihatkan kemajuan. Tak jarang ia kehabisan telur untuk di asinkan dan direbus. Ini terbukti ia banyak menerima pesanan telur asin untuk keperluan hajatan dan selamatan. Seperti kita ketahui, kebiasaan masyarakat jawa memang suka mengadakan selamatan dan hajatan. Acara selamatan dan hajatan ini sepertinya remeh, tapi cukup menguntungkan. Seorang yang berwirausaha memang harus jeli melihat peluang, sekecil apapun peluang itu. Selain itu juga sudah banyak tengkulak yang membeli telur asinnya untuk dijual ke konsumen.

Meskipun telur asin Irul cukup laris, bukan berarti ia mengindahkan bahwa telur asinnya bersaing di pasaran, baik dari sisi kualitas maupun dari sisi harga. Dalam hal ini Irul mempunyai strategi sendiri dalam menghadapi pesaingnya yaitu menjaga kualitas telur asin produksinya. Dari sisi harga, ia menjual telur asinnya dengan harga Rp. 2000/butir (sesuai harga pasar) kepada produsen. Sedangkan produsen menjualnya dengan harga Rp. 2500/butir kepada konsumen. Terkadang ada saja produsen yang menjual telur asinnya di bawah harga pasar, misalnya Rp. 1800 atau Rp. 1900 per butir. Namun setelah diteliti, kualitas telur asinnya kurang baik. “Saya tidak terpengaruh dengan penjual yang menjual telur asinnya di bawah harga pasar karena buat saya kualitas telur asin dan kepuasan konsumen itu lebih penting. Saya yakin kalau telurnya bagus, masir, dan enak, pembeli akan membelinya walaupun harganya sedikit lebih mahal.” Ungkapnya.

Istrinya, Komariyah, menambahkan, kalau usaha itu mau maju dan bertahan lama, ya harus menjaga kualitas produksinya. Baik usaha telur asin maupun usaha-usaha yang lain.

“Saya tidak mau ikut-ikutan. Karena tergiur dengan untung cepat dan untung banyak, akhirnya menjual telur asin sembarangan (belum masir) dan mengecewakan konsumen. Seperti banyak yang terjadi sekarang, iya kan Mbak.” Irul menambahkan dengan sedikit bercanda.

Setiap bulannya, Irul bisa menjual telur asin sekitar 6000 butir. Ia membeli telur (sebelum diasinkan) dengan harga Rp. 1400/butir. Sedangkan harga telur sesudah diasinkan dijual dengan harga Rp. 2000/butir. Itu berarti keuntungan yang diperoleh bisa mencapai Rp. 3,6 jt/bulan. “Saya bisa untung sekitar Rp. 3-4 jt/bulan. Saya kira itu cukup bagus bagi pemula seperti saya. Dan saya berharap kedepannya bisa berkembang dan lebih maju.” Jelasnya

Telur yang diasinkan yaitu telur bebek. Ada dua jenis telur bebek yang digunakan untuk telur asin yakni telur bebek bali (chambell) yang berwarna putih dan telur bebek jawa yang berwarna biru.

Dalam mengasinkan telur bebek, ada beberapa cara pengasinan, namun Irul hanya mencoba dua cara pengasinan saja. Pertama, telur diasinkan dengan menggunakan air dan garam. Kedua, telur diasinkan dengan menggunakan garam, batu bata, ditambah sedikit air.

Dari kedua cara ini, Irul lebih memilih cara yang kedua karena hasil telur asinnya lebih berkualitas. Untuk menghasilkan telur asin berkualitas yaitu lama waktu pengasinan (perendaman) sekitar 12-15 hari dan menggunakan telur bebek jawa.

Adapun telur asin yang berkualitas baik yaitu telur berukuran besar, kulit telurnya bersih dari kotoran, putih telurnya bersih, kuning telurnya berwarna kemerahan dengan sedikit berlapis minyak dan rasanya masir.R2n.